This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

29 April 2011

Al Jami' Al Kabir li Kutub Al Turats versi 4 (الجامع الكبير لكتب التراث)


Maktabah Al Turats adalah Perpustakaan Digital yang fungsinya hampir mirip dengan Maktabah Shamela / Shamilah. Namun sang Creator (pembuat) meng-klaim kalau Software Perpustakaan kitab Digitalnya lebih lengkap daripada Maktabah Shamela. Namun kelemahan semua Perpustakaan Kitab Digital adalah masih banyaknya kesalahan maupun kekurangan dalam penulisan dan penyajian. Bloon

Kekurangan Software ini adalah Lisensinya Berbayar alias tidak free. Tapi namanya jg Ilmu, bisa di share dengan Gratis dengan berbagai cara, karena Lisensi asli adalah Milik Allah.Mantab
Software Perpustakaan Digital Kutub Al Turats saat ini sudah mencapai versi yang ke 4 dirilis pada tahun 1428-1429 H. Besar file adalah 11 GB lebih, karena besarnya File ini, maka Link Download di bawah ini di di bagi menjadi 121 Part plus Installer and Crack. saat ini kami masih belum mampu meng-upload ulang ke server gratis, dan hanya membantu menyediakan Link Download Server Premium. Silahkan membeli acc premium agar lebih lancar Downloadnya. (Warungsantri)

Gawamil Kalam Software Kitab Hadits Lengkap

Gawamil Kalam Software adalah sebuah softwere berbahasa arab yang khusus memuat matan-matan hadits. Software ini berbeda dengan maktabah syamilah, karena hanya fokus pada kitab-kitab hadits. Lebih dari 1400 Kitab Hadits termuat pada softwere ini.
Keunggulan softwere ini antara lain :
Bila Anda pecinta ilmu, anda layak memiliki software ini, yang bisa di download secara gratis.

Jami' Fiqh Islami Portable : Kumpulan 100 Kitab Fiqh Mu'tabaroh


14 Maret 2011

Software Pencari Driver Otomatis


Saya sering sekali mendapatkan komentar untuk mencarikan Driver suatu hardware oleh pengunjung Maniac Download. Memang untuk mencari driver yang sesuai dengan hardware yang kita punya bisa dibilang susah - susah gampang.


Gampang memang kalau hardware yang kita punya terkenal atau memang banyak orang yang menggunakan hardware tersebut, atau driver yang anda butuhkan sudah tersedia di situs resminya, jadi anda tinggal download.
Tapi bagaimana kalau driver yang anda cari tidak ada yang cocok?

CD Driver yang anda dapatkan sudah hilang entah kemana, situs resmi dari hardware yang anda gunakan tidak menyediakan. Jika kasus anda seperti ini, pasti anda bisa di bilang sudah cape dan stres untuk mencarinya.

18 Februari 2011

Download Kumpulan Film-Film Islami

Kumpulan Film-Film Islami terlengkap, dimana anda dapat men-download Kumpulan-Kumpulan Film-Film Islami gratis sepuasnya tanpa perlu mendaftar dan tanpa dipungut biaya sepeserpun.




Cara Mendownload
1. Klik Judul Kumpulan Film-Film Islami
yang diinginkan di bawah Website ini
2. Ikuti terus langkah selanjutnya
3. Insya Allah, Semoga bermanfaat

21 Januari 2011

Kisah Penyembah Api

Pada masa Malik bin Dinar, hiduplah dua orang Majusi, di mana kepercayaan mereka adalah sebagai penyembah api. Mereka menyembah api dan menjaga agar api yang menjadi tuhan mereka tidak padam. Dua orang penyembah itu adalah seseorang yang berusia 73 tahun dan seorang lagi berusia 35 tahun.


Pada suatu hari, ketika mereka sedang becengkrama, si muda memanggil si tua. Si Muda lalu bertanya, "Apakah api ini akan menolong kita ataukah membakar kita sebagaimana ia membakar orang-orang yang tidak menyembahnya. Jika tidak membakar kita, ayo kita menyembahnya. Tetapi, jika membakar kita, maka buat apa kita menyembahnya?"



"Ya," jawab si tua mengangguk.


Mereka lalu menyalakan api yang cukup besar dengan menggunakan kayu yang sudah disiapkan untuk upacara penyembahan.


"Siapakah yang hendak menaruh tangannya ke dalam api yang menyala itu? Kau ataukah aku?" tanya si muda kepada si tua.


"Kamu sajalah," jawab si tua dengan penuh antusias.


Si muda itu lalu memasukkan tangannya ke dalam api yang sedang menyala. Ketika baru saja ia meletakkan jarinya dengan cepat sekali jari jemari itu terbakar.


"Auw," jerit si muda dengan sangat keras. Cepat-cepat ia menarik tangannya dan meniup-niup tangannya yang terbakar.


"Tigapuluh lima tahun aku menyembahmu, masih juga kau menyakitiku, kau bakar jariku yang selama kugunakan untuk menyalakanmu," gerutu si muda masih dengan menahan rasa sakitnya. "Ayo kita cari Tuhan yang sesusungguhnya, yang apabila kita berdosa dan meninggalkan semua perintahnya selama bertahun-tahun, misalnya, Ia akan tetap mau mengampuni dan memaafkan hanya dengan taat dan bertaubat satu jam saja serta dengan satu kali minta maaf saja," ajak yang muda.


Yang tua menurut saja apa kata apa yang muda. Katanya, "Baiklah. Kita cari orang yang akan membimbing kita ke jalan yang lurus, yang bisa mengajarkan kita kepada agama Islam yang menyelamatkan."


Mereka sepakat untuk menemui Malik bin Dinar yang tinggal di Basrah.
Mereka segera berangkat ke Basrah. Mereka menemukan Malik tengah berkumpul bersama masyarakat sedang memberikan bimbingan untuk mereka.


Melihat keramaian seperti itu, yang tua berkata, "Tak usahlah aku masuk Islam. Aku sudah kelewat tua. Umurku sudah habis untuk menyembah api. Kalaupun aku masuk Islam, agama yang dibawa oleh Muhammad itu tentulah keluarga dan tetanggaku akan mencaciku. Daripada mendapat hal itu semua, Neraka lebih kusuka daripada cacian mereka."


"Jangan lakukan itu," cegah yang muda. "Cacian bisa berhenti tetapi neraka itu abadi!" nasehat si muda.
Yang tua tetap menulikan pendengarannya. "Kamu adalah kamu. Celakalah engkau dan anak engkau,"maki si tua kepada yang muda. Ia lalu pulang dan tidak jadi masuk Islam.


Sedang orang yang muda bukannya goyah dengan cacian itu, dia malah tambah teguh dan mengajak anak-anaknya yang masih kecil dan istrinya untuk mengikuti majlis Malik bin Dinar hingga selesai. Ketika majlis itu selesai, ia berdiri, mengisahkan sebab dan niatnya untuk masuk agama Islam, juga keluarganya. Mereka lalu masuk Islam.


Orang-orang yang berada di situ dan mendengarkan apa yang diucapkan oleh si muda itu pada menangis semua.


Ketika ia hendak bermaksud pulang, Malik mehanannya. "Tunggu sebentar saudaraku, duduklah dulu hingga kawan-kawanku mengumpulkan sedikit hartanya."


"Tidak. Aku tak ingin menjual agamaku dengan dunia," tolaknya.
Ia lalu pergi dan memasuki sebuah puing-puing yang di dalamnya terdapat rumah tua. Di sanalah mereka tinggal.


Keesokan hari istrinya berkata, "pergilah ke pasar dan carilah pekerjaan. Belilah makanan secukupnya untuk kita makan."


Si muda itu lalu menuruti kata-kata istrinya dan saat sampai di pasar tak ada seorangpun yang mau memberikannhya pekerjaan yang dapat menghasilkan sesuatu.
"Lebih baik aku bekerja untuk Allah saja," katanya kepada diri sendiri.
Ia lalu pergi memasuki masjid yang sepi dari manusia. Ia shalat hingga malam tiba dan lalu pulang dengan tangan hampa.

"Suamiku, apa yang kau bawa untuk keluargamu yang menunggumu dengan harap dan menahan lapar ini?" tanya istrinya.
"Hari ini aku bekerja untuk Raja. Hari ini Dia belum memberikan sesuatu apapun kepadaku. Semoga saja esok Dia mau memberi."
Akhirnya mereka melewatkan malam dengan menahan rasa lapar.
Keesokan harinya, ia kembali ke pasar. Masih juga seperti kemarin, tidak mendapatkan pekerjaan. Lalu ia memutuskan untuk pergi ke masjid kemarin dan shalat sampai tengah malam dan kembali pulang dengan tangan hampa.
"Masih juga kau tidak dapat sesuatu untuk dimakan hai suamiku?" tanya istrinya.
"Aku masih bekerja untuk Raja yang kemarin. Besok hari Jum'at dan aku berharap Dia bermurah hati memberikan sesuatu untuk kita makan."
Mereka lalu melewatkan kembali malam dengan menahan rasa lapar.
"Esoknya, yaitu pada hari Jum'at, kembali ia pergi ke pasar dan bertekad untuk mendapatkan pekerjaan. Tapi nasib berkata lain, ia masih belum mendapat apa-apa. Ia pergi ke masjid, shalat dua rakaat dan berdoa mengadu kepada Tuhan. "Tuhanku! Pemukaku! Junjunganku! Telah Kau muliakan diriku dengan Islam. Telah kau berikan kepadaku keagungan Islam. Telah Kau berikan aku petunjuk dengan petunjuk terbaik. Atas nama kemuliaan agama yang telah Kau berikan kepadaku dan dengan kemuliaan hari Jum'at yang penuh berkah ini. Hari yang telah Kau tetapkan sebagai hari agung, aku mohon tenangkanlah hatiku karena sulitnya mencari rizki dan memberikan nafkah pada keluargaku yang kelaparan. Demi Allah! Aku malu kepada keluargaku, aku takut berubah pikiran mereka tentang Islam.
Kemudian ia berdiri dan menyibukkan diri dengan shalat.
Ketika tengah hari, saat lelaki itu shalat Jum'at. Saat anak dan istrinya sedang kelaparan di rumah, seseorang mengetuk pintu. Pintu itu dibuka oleh istrinya, sedang laki-laki yang mengetuk pintu itu membawa sebuah nampan emas yang ditutup dengan sapu tangan bersulam emas.
"Ambil nampan ini, katakanlah kepada suamimu ini upah kerjanya selama dua hari. Akan kutambah bila ia rajin bekerja, apalagi pada hari Jum'at seperti ini. Amal yang sedikit pada hari ini, di sisi Raja Yang Maha Perkasa artinya besar sekali."
Nampan itu ia terima dan ketika dibuka ternyata isinya 1.000 dinar emas. Ia ambil satu dinar untuk ditukarkan di tempat penukaran uang. Pemiliknya seorang Nasrani. Ia menimbang dinar tersebut dan ternyata beratnya dua kali lipat dari dinar biasa. Setelah diteliti ukirannya barulah tahu bahwa itu ukiran akhirat.
"Dari mana kaudapatkan ini?" ia bertanya.
Istri si muda itu lalu menceritakan semuanya. Pemilik tempat penukaran uang itu langsung masuk Islam begitu mendengar ceritanya. Ia memberi istri si muda itu 100 dirham. "Pakai saja dan kalau habis bilang saja padaku, aku akan memberimu lagi."
Sang suami yang masih tetap di masjid melakukan shalat lalu pulang dengan tangan hampa. Diam-diam ia buka sapu tangannya dan mengisinya dengan pasir. "Bila nanti istriku bertanya, aku akan jawab ini tepung."
Ketika memasuki rumah, ia mencium bau makanan. Ia letakkan bungkusan pasirnya di samping pintu agar istrinya tidak tahu. Kemudian ia masuk rumah dan menanyakan apa yang terjadi.
Sang istri lalu menceritakan kisah seluruhnya. Laki-laki itu ketika mendengar cerita suaminya langsung melakukan sujud syukur.
"Apa yang kau bawa tadi wahai suamiku?" tanya istrinya.
"Jangan tanyakan itu," elak suaminya.
Istrinya tidak mengubris kata-kata suaminya dan beranjat untuk mengambil bungkusan yang dibawa suaminya tadi dan membukanya. Atas izin Allah, pasir yang tadi diambil kini berubah menjadi tepung. Untuk kedua kalinya, laki-laki itu bersujud syukur.
Istrinya yang heran melihat tingkah suaminya lalu mendesak suaminya agar menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Si suami lalu mengajak mereka makan dahulu dan shalat dua rakaat. Baru setelah itu, si suami menceritakan semuanya kepada sang isteri dan anak-anaknya. Akhirnya, kali ini mereka semua melakukan sujud syukur dan mereka selalu beribadah kepada Allah sampai akhir hayat.


Al Faqih berkomentar, "ANGKATLAH TANGANMU KE LANGIT DAN BERDO'LAH, - dengan kemulian hari Jum'at, ampunilah dosa kami. Sirnakanlah nestapa kami- LAKI-LAKI MUDA BEKAS MAJUSI ITU BERDO'A DENGAN MENYEBUT KEMULIAN HARI JUM'AT IA DIBERI SYAFAAT. ALLAH MEMBERINYA REZEKI TANPA TERHINGGA. DEMIKIAN JUGA KITA JIKA BERDO'A PADA HARI JUM'AT."


Semoga Allah mengabulkan permintaan-permintaan.

16 Desember 2010

Potret Salaf Dalam Birrul Walidain

Suatu hari, Ibnu Umar melihat seorang yang menggendong ibunya sambil thawaf mengelilingi Ka’bah. Orang tersebut lalu berkata kepada Ibnu Umar, “Wahai Ibnu Umar, menurut pendapatmu apakah aku sudah membalas kebaikan ibuku?” Ibnu Umar menjawab, “Belum, meskipun sekadar satu erangan ibumu ketika melahirkanmu. Akan tetapi engkau sudah berbuat baik. Allah akan memberikan balasan yang banyak kepadamu terhadap sedikit amal yang engkau lakukan.” (Diambil dari kitab al-Kabair, karya adz-Dzahabi)

Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib adalah seorang yang terkenal sangat berbakti kepada ibunya, sampai-sampai ada orang yang berkata kepadanya, “Engkau adalah orang yang paling berbakti kepada ibumu, akan tetapi kami tidak pernah melihatmu makan bersama ibumu.” Beliau menjawab, “Aku takut kalau-kalau tanganku mengambil makanan yang sudah dilirik oleh ibuku. Sehingga aku berarti mendurhakainya.” (Diambil dari kitab Uyunul Akhyar, karya Ibnu Qutaibah)

Abu Hurairah menempati sebuah rumah, sedangkan ibunya menempati rumah yang lain. Apabila Abu Hurairah ingin keluar rumah, maka beliau berdiri terlebih dahulu di depan pintu rumah ibunya seraya mengatakan, “Keselamatan untukmu, wahai ibuku, dan rahmat Allah serta barakahnya.” Ibunya menjawab, “Dan untukmu keselamatan wahai anakku, dan rahmat Allah serta barakahnya.” Abu Hurairah kemudian berkata, “Semoga Allah menyayangimu karena engkau telah mendidikku semasa aku kecil.” Ibunya pun menjawab, “Dan semoga Allah merahmatimu karena engkau telah berbakti kepadaku saat aku berusia lanjut.” Demikian pula yang dilakukan oleh Abu Hurairah ketika hendak memasuki rumah.” (Diambil dari kitab Adab al-Mufrad, karya Imam Bukhari)

Dari Anas bin Nadzr al-Asyja’i, beliau bercerita, suatu malam ibu dari sahabat Ibnu Mas’ud meminta air minum kepada anaknya. Setelah Ibnu Mas’ud datang membawa air minum, ternyata sang Ibu sudah ketiduran. Akhirnya Ibnu Mas’ud berdiri di dekat kepala ibunya sambil memegang wadah berisi air tersebut hingga pagi.” (Diambil dari kitab Birrul walidain, karya Ibnu Jauzi)

Sufyan bin Uyainah mengatakan, “Ada seorang yang pulang dari bepergian, dia sampai di rumahnya bertepatan dengan ibunya berdiri mengerjakan shalat. Orang tersebut enggan duduk padahal ibunya berdiri. Mengetahui hal tersebut sang ibu lantas memanjangkan shalatnya, agar makin besar pahala yang di dapatkan anaknya. (Diambil dari Birrul walidain, karya Ibnu Jauzi)

Haiwah binti Syuraih adalah seorang ulama besar, suatu hari ketika beliau sedang mengajar, ibunya memanggil. “Hai Haiwah, berdirilah! Berilah makan ayam-ayam dengan gandum.” Mendengar panggilan ibunya beliau lantas berdiri dan meninggalkan pengajiannya. (Diambil dari al-Birr wasilah, karya Ibnu Jauzi)

Kahmas bin al-Hasan at-Tamimi melihat seekor kalajengking berada dalam rumahnya, beliau lantas ingin membunuh atau menangkapnya. Ternyata beliau kalah cepat, kalajengking tersebut sudah masuk ke dalam liangnya. Beliau lantas memasukkan tangannya ke dalam liang untuk menangkap kalajengking tersebut. Beliaupun tersengat kalajengking. Melihat tindakan seperti itu ada orang yang berkomentar, “Apa yang kau maksudkan dengan tindakan seperti itu.” Beliau mengatakan, “Aku khawatir kalau kalajengking tersebut keluar dari liangnya lalu menyengat ibuku.” (Diambil dari kitab Nuhzatul Fudhala’)

Muhammad bin Sirin mengatakan, di masa pemerintahan Ustman bin Affan, harga sebuah pohon kurma mencapai seribu dirham. Meskipun demikian, Usamah bin Zaid membeli sebatang pohon kurma lalu memotong dan mengambil jamarnya. (bagian batang kurma yang berwarna putih yang berada di jantung pohon kurma). Jamar tersebut lantas beliau suguhkan kepada ibunya. Melihat tindakan Usamah bin Zaid, banyak orang berkata kepadanya, “Mengapa engkau berbuat demikian, padahal engkau mengetahui bahwa harga satu pohon kurma itu seribu dirham.” Beliau menjawab, “Karena ibuku meminta jamar pohon kurma, dan tidaklah ibuku meminta sesuatu kepadaku yang bisa ku berikan pasti ku berikan.” (Diambil dari Shifatush Shafwah)

Hafshah binti Sirin mengatakan, “Ibu dari Muhammad bin Sirin sangat suka celupan warna untuk kain. Jika Muhammad bin Sirin memberikan kain untuk ibunya, maka beliau belikan kain yang paling halus. Jika hari raya tiba, Muhammad bin Sirin mencelupkan pewarna kain untuk ibunya. Aku tidak pernah melihat Muhamad bin Sirin bersuara keras di hadapan ibunya. Apabila beliau berkata-kata dengan ibunya, maka beliau seperti seorang yang berbisik-bisik. (Diambil dari Siyar A’lam an-Nubala’, karya adz-Dzahabi).

Ibnu Aun mengatakan, “Suatu ketika ada seorang menemui Muhammad bin Sirin pada saat beliau sedang berada di dekat ibunya. Setelah keluar rumah beliau bertanya kepada para sahabat Muhammad bin Sirin, “Ada apa dengan Muhammad, apakah dia mengadukan suatu hal? Para sahabat Muhammad bin Sirin mengatakan, “Tidak. Akan tetapi memang demikianlah keadaannya jika berada di dekat ibunya.” (Diambil dari Siyar A’lamin Nubala’, karya adz-Dzahabi)

Humaid mengatakan, tatkala Ibu dari Iyas bin Muawiyah meninggal dunia, Iyas menangis, ada yang bertanya kepada beliau, “Mengapa engkau menangis?” Beliau menjawab, “Aku memiliki dua buah pintu yang terbuka untuk menuju surga dan sekarang salah satu pintu tersebut sudah tertutup.” (Dari kitab Bir wasilah, karya Ibnul Jauzi)

Kisah Uwais al-Qorni

Dari Asir bin Jabir beliau mengatakan, “Jika para gubernur Yaman menemui khalifah Umar Ibnul Khatthab, maka khalifah selalu bertanya, “Apakah diantara kalian ada yang bernama Uwais bin Amir”, sampai suatu hari beliau bertemu dengan Uwais, beliau bertanya, “engkau Uwais bin Amir?”, “Betul” Jawabnya. Khalifah Umar bertanya, “Engkau dahulu tinggal di Murrad kemudian tinggal di daerah Qorn?”, “Betul,” sahutnya. Beliau bertanya, “Dulu engkau pernah terkena penyakit belang lalu sembuh akan tetapi masih ada belang di tubuhmu sebesar uang dirham?”, “Betul.” Beliau bertanya, “Engkau memiliki seorang ibu.” Khalifah Umar mengatakan, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Uwais bin Amir akan datang bersama rombongan orang dari Yaman dahulu tinggal di Murrad kemudian tinggal di daerah Qorn. Dahulu dia pernah terkena penyakit belang, lalu sembuh, akan tetapi masih ada belang di tubuhnya sebesar uang dirham. Dia memiliki seorang ibu, dan dia sangat berbakti kepada ibunya. Seandainya dia berdoa kepada Allah, pasti Allah akan mengabulkan doanya. Jika engkau bisa meminta kepadanya agar memohonkan ampun untukmu kepada Allah maka usahakanlah.” Maka mohonkanlah ampun kepada Allah untukku, Uwais al-Qarni lantas berdoa memohonkan ampun untuk Umar Ibnul Khaththab. Setelah itu Umar bertanya kepadanya, “Engkau hendak pergi ke mana? “Kuffah,” jawabnya. Beliau bertanya lagi, “Maukah ku tuliskan surat untukmu kepada gubernur Kuffah agar melayanimu? Uwais al-Qorni mengatakan, “Berada di tengah-tengah banyak orang sehingga tidak dikenal itu lebih ku sukai.” (HR. Muslim)

Sumber : www.muslim.or.id